Jangan Mudah Terkejut dan Jangan Mudah Takjub akan segala sesuatu

Maha Suci Engkau ya Allah, tidaklah kami ketahui sesuatu kecuali yang sudah Engkau beritahu pad kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana
___________________________________________________________Be-SWN

Berkorban atau Mengkorbankan orang lain ?

SWN : “BERKORBAN, dicerminkan pada perbuatan melengkapi dan melayani. Dan menjadi tanpa pamrih jika tidak ada kepentingan pribadi. Hanya untuk mendidik, melindungi dan menyelamatkan orang lain. Ketidak fahaman membuat sikap saya selalu berharap imbalan”. 

Berkorban dan berkorban adalah sifat yang dimiliki oleh seorang abdi yang tahu (DIRI)  akan fungsi sebagai pelengkap, bertugas melayani dan tujuan hidup untuk menyelamatkan orang lain (mahluk lain – alam semesta) didunia ini. Dapat pula di katakan sifat yang dimiliki oleh cinta, yaitu perbuatan yang dilakukan dengan senang hati, dan dilakukan tanpa mengharap balasan. 

Kekuatan rasa cinta itu seolah – olah tidak memperhatikan keinginan dan mimpi pribadinya, yang ada hanyalah berusaha melengkapi dan melayani serta menyelamatkan sesuatu yang dicintainya. Nyatanya adalah pribadi ini merasa bahagia, tenang dan tentram. Ketika tidak ada yang harus dilengkapi merasa janggal, ketika tidak ada yang dilayani merasa aneh dan ketika tidak ada yang diselamatkan terasa bingung, karena pada dasarnya pribadi ini sudah menyelematkan pribadinya sendiri. (Barang siapa yang mau menyelamatkan orang (mahluk) lain, sesungguhnya adalah menyelamatkan DIRInya sendiri. maka selamatkan lah DIRImu dengan cara menyelamatkan orang lain). 

Akan tetapi bagaimana jika sesuatu itu tidak dilakukan dengan rasa cinta, tidak dilakukan dengan tahu (Fungsi, tugas dan tujuan) DIRI, maka perbuatan itu kurang mau dilakukan bahkan cenderung tidak mau jika tidak ada imbal balik untuk pribadinya. Dengan kata lain, pribadi ini akan berbuat jika menguntungkan atau jika ada maunya. Jikalau hal ini terjadi akan banyak benturan antara kepentingan yang satu dengan kepentingan yang lain, yang mengakibatkan terjadinya permusuhan, perkelahian dan bahkan peperangan. Inikah yang diinginkan ?

Dalam istilah Jayabaya, sang DIRI (qolbu) di penjara (tanah jawa kalungan wesi, red). Maka yang terjadi adalah semaunya sendiri, kebenaran sendiri dan bahkan adil itu menurut pribadinya sendiri-sendiri. Jikalau sudah begitu kezaliman merajalela, nafsu angkaramurka menjadi penguasa didunia ini. Nah itukah yang di inginkan ? 

Bagi yang mengenal dan memahami tentang DIRI, sifatnya akan welas asih, berbudi pekerti yang luhur, Ngalah dan Ngalahi, pantas disebut cah angon (penggembala, pemimpin) pencipta kedamain pribadi dan orang lain, serta menjadi rahmat lil ‘alamiin. Maka pribadi itu akan merasa aman, tentram dan sentosa. Menjadi jiwa mutma’innah (jiwa yang tenang). 

Bagaimana dengan kita ? mau  mengedepankan Qolbu dengan mengkorban kepentingan pribadi karena cinta dan menjadi jiwa yang tenang, atau mengedepankan nafsu dengan tak mau berkorban untuk orang lain dan memulai perpecahan serta permusuhan ?


Salam, Be-SWN

Selanjutnya  : Pilih Malu atau Tak tahu Malu

1 komentar: