SWN: “Setelah membaca asal-usul, DIRI ini di cipta untuk MELENGKAPI kebahagiaan, MELAYANI tanpa pamrih dan BERKORBAN untuk menyelamatkan orang lain. Keangkuhan yang membuat sikap Saya lebih suka mengkorbankan orang lain dan MELAYANI jika ada kepentingan pribadi”
Setelah membaca postingan ”Hilangnya fungsi MELENGKAPI”, ”BUTA atas fungsi MELAYANI” serta ”berpura-pura BERKORBAN”, ternyata : mulai dari datangnya kabar kehamilan sampai pada fase melahirkan anak, memiliki banyak arti yang sangat mendalam terutama dalam mencari JATIDIRI, dalam bahasa keilmuannya disebut ONTOLOGI (ilmu asal–usul DIRI sejati, ilmu ALIF, ilmu WARAS). Itulah janji dan sumpah kita di alam kandungan, yaitu janji untuk hidup di alam dunia. Lantas bagaimana kenyataannya ?
Mari kita coba bahas ulang.
Berdasarkan asal – usul, DIRI ini diciptakan untuk :
Setelah membaca postingan ”Hilangnya fungsi MELENGKAPI”, ”BUTA atas fungsi MELAYANI” serta ”berpura-pura BERKORBAN”, ternyata : mulai dari datangnya kabar kehamilan sampai pada fase melahirkan anak, memiliki banyak arti yang sangat mendalam terutama dalam mencari JATIDIRI, dalam bahasa keilmuannya disebut ONTOLOGI (ilmu asal–usul DIRI sejati, ilmu ALIF, ilmu WARAS). Itulah janji dan sumpah kita di alam kandungan, yaitu janji untuk hidup di alam dunia. Lantas bagaimana kenyataannya ?
Mari kita coba bahas ulang.
Berdasarkan asal – usul, DIRI ini diciptakan untuk :
1. MELENGKAPI kebahagiaan, yang berarti mengisi sesuatu yang kosong, menjadi sesuatu yang saling membutuhkan. Sifatnya menyayangi, mendidik dan melindungi.
2. MELAYANI tanpa pamrih, yang berarti menyediakan, mengabdi dan melaksanakan “sesuatu” yang dibutuhkan. Sifatnya memberi dan mengasihi tanpa mengharap balasan.
3. BERKORBAN untuk menyelamatkan orang lain, yang berarti melepaskan kepentingan pribadi untuk kepentingan orang lain, mendahulukan kepentingan orang banyak diatas kepentingan pribadi. Sifatnya Obyektif, kebijaksanaan dan keadilan.
Ketiga langkah itu dapat disebut teori M2B, yang dilakukan tanpa ada EMOSI. Dan kalau dicerminkan dalam Diin ISLAM, hal itu di bungkus rapi dalam kalimat “bismillahirohmaanirrohiim”.
Tetapi ketika janji Sang DIRI, Sang ALIF, Sang WARAS ini tidak difahami, dihayati dan dicermin dalam prilaku, dapatkah pribadi itu disebut WARAS ? atau bolehkah disebut pura-pura WARAS ? dan lebih kasarnya, bolehkan disebut EDAN ?. Kenapa hal itu tidak dapat difahami dan dihayati ? karena DIRI pada setiap pribadi itu terhijab (tertutup) oleh Nafsu (keinginan), akal dan Perasaan. DIRI bagaikan dipenjara (tanah Jawa kalungan wesi, jayabaya red). Akhirnya yang terjadi adalah keangkuhan dan angkara murka seperti yang dibahas pada zaman terbalik.
Tidak maukah pribadi ini hidup dengan jiwa yang tenang ?
Salam, Be-SWN
Berikutnya : Pelecehan Fungsi DIRI
Sebelumnya : Pura-Pura Berkorban
Tidak maukah pribadi ini hidup dengan jiwa yang tenang ?
Salam, Be-SWN
Berikutnya : Pelecehan Fungsi DIRI
Sebelumnya : Pura-Pura Berkorban
Tidak ada komentar:
Posting Komentar