SWN: "Pribadi yang kurang mau melaksanakan fungsi, tugas dan tujuan hidup ini (yang sudah difahami) merasa malu ketika slalu mengharap dan meminta serta menilai orang lain. kecuali hati yang telah beku yang pantas di sebut tak tahu malu".
Jangan Mudah Terkejut dan Jangan Mudah Takjub akan segala sesuatu
Maha Suci Engkau ya Allah, tidaklah kami ketahui sesuatu kecuali yang sudah Engkau beritahu pad kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana
___________________________________________________________Be-SWN
Maha Suci Engkau ya Allah, tidaklah kami ketahui sesuatu kecuali yang sudah Engkau beritahu pad kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana
___________________________________________________________Be-SWN
Tampilkan postingan dengan label Waras - NGALAHI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Waras - NGALAHI. Tampilkan semua postingan
Berkorban atau Mengkorbankan orang lain ?
SWN : “BERKORBAN, dicerminkan pada perbuatan melengkapi dan melayani. Dan menjadi tanpa pamrih jika tidak ada kepentingan pribadi. Hanya untuk mendidik, melindungi dan menyelamatkan orang lain. Ketidak fahaman membuat sikap saya selalu berharap imbalan”.
'Abdi kok Minta Dilayani
SWN: "MELAYANI adalah sikap dari pribadi yang disebut sebagai 'abdi, yang patuh dan tunduk terhadap norma. Kekurang fahaman SAYA tercermin pada prilaku yang lebih suka mencari kelemahan dan melanggar norma daripada patuh dengan alasan: - Hak asasi manusia, - Tidak ada saksi, - minta dilayani".
Pelecehan Fungsi DIRI
SWN: “MELENGKAPI adalah wujud keseimbangan & kesempurnaan hidup berpasang-pasangan. Ke kurang fahaman membuat sikap saya kurang mau: -menerima, -bersyukur dan mengkaji manfaatnya menjadi ‘tali’ yang saling membutuhkan, sehingga dekat dgn rasa iri dan dengki”.
Pembunuhan Sifat WARAS
SWN: “Setelah membaca asal-usul, DIRI ini di cipta untuk MELENGKAPI kebahagiaan, MELAYANI tanpa pamrih dan BERKORBAN untuk menyelamatkan orang lain. Keangkuhan yang membuat sikap Saya lebih suka mengkorbankan orang lain dan MELAYANI jika ada kepentingan pribadi”
Pura-pura BERKORBAN
SWN: “Disaat merasakan waktunya melahirkan, bagaimanapun sakitnya ibu tidak peduli, bila perlu nyawa dikorbankan agar Saya lahir dengan selamat.. Ketidak fahaman atas hal itu membuat sikap Saya lebih suka menerima daripada memberi dan menghitung-hitung untung”.
BUTA atas Fungsi MELAYANI
SWN: “Apapun yang hati ini mau, terinspirasi pada saat sang ibu ngidam, mereka berusaha MELAYANI tanpa pamrih. ketika Saya sakit, mereka juga merasa sakit. Kebutaan atas hidup yang harus melayani tanpa pamrih membuat saya bersifat individualis”.
Hilangnya Fungsi MELENGKAPI
SWN : “Mendengar kabar datangnya sang buah hati (saya) walau masih dalam kandungan, mereka (orang tua atau lingkungan) begitu gembira, kabar itu bagai kilau EMAS permata yang tanpa pamrih MELENGKAPI kebahagiaan… KeEGOisan saya yang menutupi hal itu menjadi hilang dan beralih”.
Siapa DIRI Ini ???
SWN: "Ketika DIRI kurang di fahami dan di hayati, tercipta suatu zaman yang di sebut zaman terbalik. Pribadi yang Edan mengaku Waras dan yang Waras di klaim Edan. Benar jadi tak wajar, salah jadi lumrah. Kezaliman merajalela. Menghayati dan Mawas DIRI adalah langkah agar selamat. Siapa sebenarnya DIRI ini ? "
SAYA Yang Paling Pantas
SWN: "Tercermin pula pada daya pikir yang menganggap saya dan golongan saya yang paling pintar, paling benar, paling pantas di puji dan dihormati hingga kurang mau peduli, kurang mau disalahkan dan kurang mau mendengarkan orang lain yang akhirnya mudah mengadu dan di adu domba".
Anti Penghayatan
SWN: "Kurangnya penghayatan terhadap DIRI, tercermin pada prilaku saya yang lebih: suka menuntut hak dari pada melakukan kewajiban, suka meminta dari pada memberi, suka menghina daripada menghormati hingga kurang mampu mengisi perbedaan dengan sesuatu yang indah dan bercahaya"
"Virus" Pemahaman
SWN : "Ketidak fahaman saya terhadap DIRI mendukung predikat PANTAS, tatkala bertindak bagai seorang hakim yang mudah memvonis 'salah' orang lain dan mempermainkan norma untuk kepentingan pribadi hingga membuat keluarga kurang aman dan nyaman".
Kehancuran Keluarga
SWN: "Apabila masyarakat di suatu 'keluarga' itu sudah tidak ada kepercayaan (keyakinan/keimanan) dan kurang patuh terhadap hukum, serta tak ada yang mau NGALAHI, bersiaplah dengan siksa dan kehancuran". Jati DIRI adalah pondasi dalam rekontruksi keluarga itu.
Seksinya Berfikir Positif
SWN : "Berfikir positif, Koreksi, sadar dan tahu DIRI adalah PEDANG pengatur nafsu yang siap perang dalam pribadi. Mari kita gunakan disegala situasi dan kondisi menuju kwalitas hidup dan kehidupan".
Pengorbanan Palsu
SWN : "Begitu mulianya berkorban, sampai saya lupa dengan piciknya. yang saya korbankan adalah 'sisa' bahkan hasil kemungkaran itupun mengharap balasan. Saya orang licik dan tak WARAS. Berkorbanlah dengan apapun yang merasa dipunya dan disayang tanpa pamrih".
Oh.. Ibu dan PERTIWI
Ibu dan Pertiwi.....
Gara - gara kami engkau berduka.
Tak ada cinta dihati ini, kalaulah ada itu hanya pura-pura
(karena takut siksa atau mengharap nikmat-MU).
Kami lupa akan kesabaranmu saat mengandungku,
menjagaku dan membesarkanku.
Lupa dengan pengorbanan nyawamu saat melahirkanku.
Kesalahan - Kesalahan SAYA
SWN: "Semua ini salah SAYA : yang hanya diam, yang memberi kesempatan (dimanfaatkan) oleh kemungkaran, Paling benar sendiri, individualis, melanggar hukum, kurang bisa mengatur, kurang bisa memberi contoh yang baik dan kurang amanah, kurang WARAS dan termasuk orang - orang yang kufur. Sesungguhnya siksa itu sangatlah pedih".
Sing Waras - NGALAHI
SWN: "Barang siapa yang mau NGALAHI pada suatu perkara, orang itu akan dimudahkan segala urusannya. Sesungguhnya Allah bersama orang - orang yang sabar".
Langganan:
Postingan (Atom)