Jangan Mudah Terkejut dan Jangan Mudah Takjub akan segala sesuatu

Maha Suci Engkau ya Allah, tidaklah kami ketahui sesuatu kecuali yang sudah Engkau beritahu pad kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana
___________________________________________________________Be-SWN

Lir - Ilir Sebagai Cermin DIRI

Seperti yang telah diberitahukan sebelum nya, salah satu fungsi tembang Lir – Ilir dapat  dipakai sebagai cermin DIRI. Dimana setiap  kata dan kalimatnya mengandung arti dan makna kesadaran terhadap DIRI. Mari kita ulas 

Lir ilir atau Kipas–kipas/sayup–sayup. Untuk menuju pada kesadaran DIRI, diperlukan sesuatu yang sangat me”nyakit”kan, yaitu segala keinginan, khayalan dan imajenasi dikipas atau dibuang jauh–jauh. Hal itu bisa dilakukan secara sengaja atau tidak sengaja. Bagi yang tidak sengaja hal itu akan terjadi karena sebab akibat, yang akhirnya pribadi itu akan merasa sangat “sakit” (segala apa yang diinginkanya, yang di impikannya secara tiba–tiba buyar, hancur dan terkubur oleh ulah pribadi yang lain, yang kalau ditelusuri hal itu adalah akibat ulah pribadi itu sendiri).   

Jika pribadi itu mau mempelajari dan membaca asal–usul kesalahan, asal-usul kejadian dan dicerminkan dengan apa yang telah dilakukan dan tetap istiqomah mencari sebab– akibat (hukum alam), maka akan timbul kesadaran DIRI (sang Adam), akan timbul awal kenikmatan Jiwa, bagai tanaman yang mulai tumbuh =“tandure wus sumiler”.

Mem"baca" dan terus mem"baca", sehingga ada pemahaman–pemahaman baru yang menyejukkan yang membahagiakan bagai “tak ijo royo–royo” menuju pada persiapan sang DIRI (“tak senggo”), menuju pada bergabungnya, bersatunya sang jasmani dan ruhani. Bersatunya Sang akal, jasad, perasaan, nafsu dan sang Qolbu yang kesejukannya, kebahagiaannya, dan ketentraman hatinya bagaikan penganti baru disuarakan dengan “temanten anyar”. 

Ketika sang jasmani dan ruhani berkolaborasi, suara dan perbuatannya menjadi bijak, mejadi pemberi kabar gembira bagai sang pemimpin, sang pengendali, sang  “Cah angon”. Tingkah laku yang selalu gembira dalam mengendalikan akal, perasaan dan keinginan digambarkan dengan seruan “penekno blimbing kuwi”, Yang berarti Blimbing adalah pengendalian 4 unsur (jasad-tubuh, perasaan-jiwa, nafsu-keinginan dan akal-pikiran) plus 1 (qolbu) dalam diri pribadi masing…. Falsafah 5 titik berbentuk bintang akan diulas pada bab Bintang berikutnya.   

Garis perjalanan 4 unsur plus 1 DIRI ini sangatlah berliku - liku, (muqollibal Qulub) kadang perasaan lebih kuat dari pada keinginan, kadang pikiran lebih kuat dari perasaan dst. Maka kondisi yang demikian digambarkan dengan licinnya pengendalian unsur DIRI. (“lunyu-lunyu”) tetapi tetaplah harus dikendalikan (“penekno”) untuk mengerti dan memahami sisi-sisi keburukan dari 4 unsur tadi pada prilaku masing – masing pribadi. bagaikan baju yang harus dicuci “kanggo mbasoh dodot iro”. 

Pada dasarnya setiap prilaku “dodot” yang di kendalikan mengandung nilai kebaikan dan keburukan, janganlah bangga dengan kebaikan dan janganlah terlena dengan keburukan, karena semua itu tetaplah ada kebaikan, perjalanan pemahaman dan penghayatan prilaku digambarkan dengan tertiup angin “kumitir” dan keburukan disimbulkan dengan sobek walaupun berada di paling ujung “bedah ing pinggir”.   

Maka janganlah sombong atas kebaikan, dan janganlah senang dengan keburukan, hiasi dengan selalu berbuat untuk memberi hikmah dan pendidikan. Setelah itu perbanyak memohon maaf (istigfar),  Maka perbuatan yang kita lakukan ibarat menjahid dan merapikan “domdomono jlumatono”  menuju pada kehidupan yang lebih baik, yang lebih bermakna dan lebih bermanfaat di suatu hari nanti (“kanggo sebo mengko sore”). 

Selagi terpilih untuk mengerti dan memahami Hidup, selagi diberi kesempatan dan selagi ada petunjuk jalan kebenaran “Mumpung padang rembulane”. Selagi kaki masih bisa berjalan, tangan bisa meraih, mulut bisa berbicara, telinga bisa mendengarkan dan mata bisa melihat dan hati bisa berbicara “Mumpung jembar kalangane”. Maka bergembiralah, bersyukurlah wahai pribadi yang sadar akan DIRI dan pribadi yang dapat memberi pencerahan DIRI. “yo surak o surak hiyo”. 

Salam, Be-SWN

Yang terkait :
- Gundul Pacul
- Jaran Teji

Tidak ada komentar:

Posting Komentar