Seperti yang pernah disinggung di posting Siapa Diri ini ?. kita secara sadar atau tidak, kita berada pada situasi zaman terbalik atau dalam bahasa jawa disebutkan “wolak – walike zaman” seperti yang pernah di lontarkan oleh sang raja Kerajaan Kediri pada abad ke sebelas yang bernama Jongko Joyoboyo. Dengan sebuah ramalan yang tidak asing yaitu “ramalan Joyoboyo”. Akan tetapi dalam blog ini yang saya coba ulas adalah ramalan tentang zaman terbalik dan bagaimana jika dicermin dalam DIRI.. Nah mari kita mulai.
Iku tando yen tekane jaman Joyoboyo wis cedhak
Secara nyata kita sudah dapat melihat dan mendengarkan isi dari kutipan diatas, seperti halnya “kereta tanpa kuda” (zaman dulu yang namanya kereta, penggerak utamanya adalah kuda, sedangkan sekarang bukan kuda lagi tapi mekanik dan listrik) yang berarti kereta api. “Tanah jawa berkalung besi” dalam hal ini adalah REL kereta api yang dibuat dari besi dan rel ini dibangun dari ujung timur sampai ujung barat pulau jawa.
“Kapal berjalan diatas awan” yang berarti dapat kita lihat dan kita naiki adalah Pesawat terbang. Dulu yang namanya kapal itu selalu berjalan di air (sungai, danau dan laut), tetapi kapal sekarang sudah dapat keluar angkasa raya. “Sungai hilang airnya” yang namanya sungai pasti ada airnya, yang dimaksud kalimat itu adalah lanjutan dari “kapal yang berjalan diatas awan” jika kapalnya berada di “sungai”, sungai hilang airnya. Berarti sebuah jembatan layang. “Pasar hilang suaranya bisiknya” = yang namanya pasar, pasti ada tawar – menawar barang, perjanjian dan lain sebagainya. Nah kalau kita mengikuti pasar saham, pasar forek, maka tidak ada suara bagai “pasar hilang suara bisingnya”
Apakah maksud dari “itu tanda kalau zaman jayabaya uda dekat” ? manusia yang keliru pemahamannya, keliru cara menghadapinya dan keliru cara pandangnya. Akibatnya akan dijelaskan pada asal mula di temuinya “wolak – walike zaman”.
Nah mari kita coba cermin ke DIRI
Kereta adalah alat perjalanan dalam hal ini adalah tubuh atau jasmaniah, dan kuda adalah motorik (sang pembawa jalan kebenaran atau qolbu - ruhaniyah). Ketika Jasmaniah “ditinggalkan” ruhaniyah atau diganti dengan Akal dan nafsu. apakah yang terjadi ?
Jawa berasal dari kata "Jahu wa" yang artinya tanah tuhan, kemudian diucap "Jahwa", sedangkan orang Jawa sendiri susah mengatakan "Jahwa," akhirnya menjadi Jawa. Membaca dari arti Jawa adalah tanah tuhan berarti berhubungan dengan al-Haq yaitu kebenaran (ruhaniyah). Ketika al-Haq di jeruji atau dipenjara dengan besi, apakah yang terjadi?
Kapal sama dengan kereta, yaitu alat perjalanan, yang seharusnya bergandengan dengan motorik (ruhaniyah) tetapi dikuasa oleh sang otak dan nafsu, akirnya yang terjadi adalah halusinasi, kayalan dan keinginan yang membara bagai di “awang-awang” . Ketika sang jasmaniah di beri hayalan – hayalan apakah yang terjadi ?
Sungai adalah jalan dan air adalah benda yang mampu memposisikan diri pada tempatnya. Pribadi yang dapat menggabungkan jasmani dan ruhani sifatnya seperti air yaitu mampu memposisikan diri. Ketika jasmaniah tidak dapat memposisikan diri dengan jasmaniyah yang lain apa yang terjadi ?
Pasar adalah tempat tawar menawar, negosiasi dan musyawarah. Setiap pribadi ada tempat yang dinamakan hati (yang biasanya ada pertarungan suara iblis dan malaikat). Ketika hati sudah tidak bersuara apa yang terjadi ? Maka akan banyak terjadi suatu kesalahan dalam memahami, menghayati dan menempatkan posisi. Itulah zaman Jayabaya.
Salam, Be-SWN
Berikutnya : Zaman Terbalik
Lir - Ilir
Jaran Teji
Gundul - Gundul Pacul
Sing WARAS NGALAHI
Bismillahi rohmaani rohiimi
Nanti kalau sudah ada
- kreto tanpo jaran
kereta tanpa kuda
- Tanah Jowo kalungan wesi
Tanah Jawa berkalung besi
- Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang
Kapal berjalan diatas awan
- Kali ilang kedhunge
Sungai hilang airnya
- Pasar ilang kumandhange
Pasar hilang suara bisingnya
Itu tanda kalau datangnya zaman Jayabaya uda dekat
Secara nyata kita sudah dapat melihat dan mendengarkan isi dari kutipan diatas, seperti halnya “kereta tanpa kuda” (zaman dulu yang namanya kereta, penggerak utamanya adalah kuda, sedangkan sekarang bukan kuda lagi tapi mekanik dan listrik) yang berarti kereta api. “Tanah jawa berkalung besi” dalam hal ini adalah REL kereta api yang dibuat dari besi dan rel ini dibangun dari ujung timur sampai ujung barat pulau jawa.
“Kapal berjalan diatas awan” yang berarti dapat kita lihat dan kita naiki adalah Pesawat terbang. Dulu yang namanya kapal itu selalu berjalan di air (sungai, danau dan laut), tetapi kapal sekarang sudah dapat keluar angkasa raya. “Sungai hilang airnya” yang namanya sungai pasti ada airnya, yang dimaksud kalimat itu adalah lanjutan dari “kapal yang berjalan diatas awan” jika kapalnya berada di “sungai”, sungai hilang airnya. Berarti sebuah jembatan layang. “Pasar hilang suaranya bisiknya” = yang namanya pasar, pasti ada tawar – menawar barang, perjanjian dan lain sebagainya. Nah kalau kita mengikuti pasar saham, pasar forek, maka tidak ada suara bagai “pasar hilang suara bisingnya”
Apakah maksud dari “itu tanda kalau zaman jayabaya uda dekat” ? manusia yang keliru pemahamannya, keliru cara menghadapinya dan keliru cara pandangnya. Akibatnya akan dijelaskan pada asal mula di temuinya “wolak – walike zaman”.
Nah mari kita coba cermin ke DIRI
Kereta adalah alat perjalanan dalam hal ini adalah tubuh atau jasmaniah, dan kuda adalah motorik (sang pembawa jalan kebenaran atau qolbu - ruhaniyah). Ketika Jasmaniah “ditinggalkan” ruhaniyah atau diganti dengan Akal dan nafsu. apakah yang terjadi ?
Jawa berasal dari kata "Jahu wa" yang artinya tanah tuhan, kemudian diucap "Jahwa", sedangkan orang Jawa sendiri susah mengatakan "Jahwa," akhirnya menjadi Jawa. Membaca dari arti Jawa adalah tanah tuhan berarti berhubungan dengan al-Haq yaitu kebenaran (ruhaniyah). Ketika al-Haq di jeruji atau dipenjara dengan besi, apakah yang terjadi?
Kapal sama dengan kereta, yaitu alat perjalanan, yang seharusnya bergandengan dengan motorik (ruhaniyah) tetapi dikuasa oleh sang otak dan nafsu, akirnya yang terjadi adalah halusinasi, kayalan dan keinginan yang membara bagai di “awang-awang” . Ketika sang jasmaniah di beri hayalan – hayalan apakah yang terjadi ?
Sungai adalah jalan dan air adalah benda yang mampu memposisikan diri pada tempatnya. Pribadi yang dapat menggabungkan jasmani dan ruhani sifatnya seperti air yaitu mampu memposisikan diri. Ketika jasmaniah tidak dapat memposisikan diri dengan jasmaniyah yang lain apa yang terjadi ?
Pasar adalah tempat tawar menawar, negosiasi dan musyawarah. Setiap pribadi ada tempat yang dinamakan hati (yang biasanya ada pertarungan suara iblis dan malaikat). Ketika hati sudah tidak bersuara apa yang terjadi ? Maka akan banyak terjadi suatu kesalahan dalam memahami, menghayati dan menempatkan posisi. Itulah zaman Jayabaya.
Salam, Be-SWN
Berikutnya : Zaman Terbalik
Lir - Ilir
Jaran Teji
Gundul - Gundul Pacul
Sing WARAS NGALAHI
Bismillahi rohmaani rohiimi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar