Jangan Mudah Terkejut dan Jangan Mudah Takjub akan segala sesuatu

Maha Suci Engkau ya Allah, tidaklah kami ketahui sesuatu kecuali yang sudah Engkau beritahu pad kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana
___________________________________________________________Be-SWN

Zaman Terbalik : Pendahuluan


Setelah banyak pribadi yang mengekang dan memenjarakan qolbu,  seperti yang telah diulas di Zaman Jayabaya, maka akan muncul berbagai perubahan – berubahan yang terjadi pada lingkungan, yang sifatnya adalah asal-usul terjadinya kemungkaran, kejahilan, kezaliman dan ketidak adilan ,seperti yang digambarkan oleh Joyoboyo sebagai berikut : 

Bumi soyo suwe soyo mengkeret 
Bumi semakin lama semakin mengecil 
Sekilan bumi dipajeki  
Sejangkah bumi di tarik pajak 
Jaran doyan mangan sambel  
Kuda suka makan sambal 
Wong wadon nganggo pakaian lanang  
wanita menggunakan pakaian pria 
Iku tondone yen wong bakal nemoni wolak-walik ing jaman 
Itu tandanya ketika orang akan menemui zaman terbalik. 

Jikalau kalimat diatas dibaca secara kasat mata, maka semakin banyak manusia, semakin banyak membutuhkan tempat tinggal, semakin banyak membutuhkan tempat kerja, semakin banyak membutuhkan tempat untuk menghasilkan makanan yang akhirnya seolah – olah “Bumi semakin lama semakin mengecil”. Dengan banyaknya kepentingan, banyaknya keperluan, maka setiap meter tanah pun dimintai pajak (sejengkah bumi ditarik pajak).  

Dengan kondisi dan situasi yang sedemikian itu, maka bukanlah tidak mungkin manusia akan berbuat yang hina untuk mendapatkan makanan, perkara – perkara yang dibenci malah disukai ibarat “kuda suka makan sambal” (padahal kuda anti sambal). Tidak ada yang tidak utama dan tidak penting, semua menganggap pribadinya paling penting hingga tidak ada perbedaan kasta dan kodrati. Hingga diibaratkan “wanita menggunakan pakaian pria”. Akibat dari zaman Jayabaya akan terjadi perubahan – perubahan yang sangat signifikan seperti yang diulas diatas, sebagai tanda mulainya zaman terbalik “Itu tandanya ketika orang akan menemui zaman terbalik”.

Nah apakah peristiwa–peristiwa yang seperti itu tidak terjadi zaman sekarang bahkan sebelum kita ada ? jawabnya adalah ada dan nyata. Bukan sebuah ramalan lagi tetapi kenyataan yang sangat pasti. Akan tetapi pernahkah kita mencoba membaca prubahan–perubahan itu ke dalam pribadi masing-masing ?. 

Mari kita coba baca kedalam pribadi 
Bumi adalah karunia Ilahi yang terdiri dari 4 unsur (api, angin, air dan tanah) plus 1 (system = sunnatullah), ketika 4 unsur plus 1 itu dicermin dalam DIRI, maka tidak ada perbedaan. Sehingga manusia diibaratkan bumi. Ketika manusia memenjarakan qolbu (tanah jawa berkalung besi) maka manusia (yang seharusnya menyatukan 4 unsur plus 1 = Adam) akan dipenuhi dengan nafsu. Sifat Adamnya semakin lama semikin mengecil “bumi semakin lama semakin mengecil”. Karena Qolbu sudah dipenjara, maka setiap unsur dikaryakan agar dapat menghasilkan (walau harus melanggar norma yang tidak disukai oleh sejatinya Qolbu). “Dikaryakan” itu diibarat ditarik pajak “sejengkal bumi ditarik pajak”.

Ketika qolbu dipenjara maka yang menjadi penguasa adalah Akal. Akal tidak akan peduli apakah yang “dimakan” itu baik atau buruk, tetap saja dimakan yang penting menguntungkan ibarat “Kuda suka makan sambal”. dan ketika Akal menjadi penguasa, sang perasaan yang seharusnya menjadi air (yang selalu merendah = pengasih) menjadi raja tega Ibarat “wanita menggunakan pakaian pria 

Nah, semakin banyak pribadi yang seperti kasus – kasus diatas, maka bersiaplah dengan suatu zaman yang disebut zaman terbalik “Itu tandanya ketika orang akan menemui zaman terbalik” yaitu zaman dimana kemungkaran, ketidak adilan, kesengsaraan merajalela. Untuk merubahnya kembali diperlukan kesadaran DIRI oleh masing – masing pribadi agar menjadi jiwa yang tenang jiwa mutma’innah dan jiwa yang berbahagia.  

Seperti apakah zaman terbalik itu ?  


Salam, Be-SWN

Berikutnya (ZT)   : Salah Itu Sexy
Sebelumnya (ZT) : Zaman Jayabaya
Lir - Ilir 
Jaran Teji 
Gundul - Gundul Pacul
Sing WARAS NGALAHI
Bismillahi rohmaani rohiimi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar